Senin, 11 April 2016

ANDAI........KAN...... (bagian pertama)



tak ada lagi ‘kata’ diungkapkan,
tak perlu lagi ‘nada’ diiramakan,

‘tuk jelaskan…..mengapa ia………

sosok gambarnya menebarkan nyanyi,
sorot tatapnya memendarkan harmoni,
samar bayangnya memancarkan memori,
suara ucapnya memaparkan puisi,

ah….andai....kan mewujud nyata…..

dapat menjumput sepenggal sejuk senyum-mu,
maka– kan ku-tambat lekat pada ruang rinduku;

andai....kan…..

dapat membaur menjadi langit ‘kota’-mu,
maka– kan ku-naungi gemulai lambai hijabmu;

andai....kan…..

dapat melebur sebagai air ‘sungai-musi’-mu,
maka– kan ku-aliri gerak jejak langkahmu;


= untuk memenuhi permintaan seseorang di palembang

Senin, 08 Februari 2016

MENJEMPUT HARAPAN




- catatan seorang isteri untuk suaminya –
 (yang diekspresikan pada hari ulangtahun perkawinan)

mengurai lembaran hari berlalu
dalam suam hangat pagi berpadu
dalam lembut dingin malam beradu
dalam kenyataan dan harapan menyatu

seperti…..terbuka kembali,
ruang-ruang waktu - dulu, kemarin dan kini,
detik-detik hari telah bergilir sebanyak kali,
detak-detak hati telah bertabur selaksa arti,
kemudian kan meniti – menggapai,

saat siang tegar menerang….
saat separo-bulan menghias petang....
saat kabut temaram segalah pandang…..
saat setapak-jalan menanjak membentang…..

saat desir suara mengalir menjalarkan irama
saat tersirat memancar bias rona purnama
saat cahaya semburat menembus pintu sukma
saat buai hasrat dambaan nyata

yang kini kemudian…. seakan membawa terbang
meraih - menjemput – mewujud harapan kan-menjelang

karena….. …

bahwa kini memang tak lagi di peraduan sendiri
bahwa kini memang telah selayar mengarungi
pada setiap tepi – setiap pantai

pada setiap detik – setiap waktu,
pada setiap langkah – setiap merindu,
nan seperti takhenti ku-berpaut-kan -
tak surut ku-bergayut –kan,
pada yang disampingku,

karena….
ini memang bukan impian semata,
ini memang pahatan untaian nyata,
yang luruh bersama kebeningan air mata bahagia,
yang larut bersama kejernihan siraman haru jiwa.

hingga…
aku tertunduk dalam permunajatan...

ya…Yang Kuasa…
jadikan setiap peluh kami - sebagai bangunan berhiaskan ke-hikmah-an
jadikan setiap saat kami - sebagai suratan bertaburkan ke-barakah-an.

Kamis, 04 Februari 2016

KEPERGIAN

memang …. bahwa….

semua yang dari Sang Maha Kuasa
tak ada yang ‘tiba-tiba’,
semua yang dari Sang Maha Perencana
tak ada yang ‘serta merta’.

begitu….juga……..

kepergian jiwamu yang tenang menuju keridhoan-Nya,
walau...sungguh…..telah menghentakkan nyata……

hingga……..
tak mampu aku - walau 'tuk hanya mengangkat tangan selamat jalan,
tak sempat aku - walau ‘tuk hanya lambaikan sapu tangan,

hanya……
masih tersisa basah setitik pada kacamataku,
masih terbaca rangkai sekata-mu pada catatanku,
masih tergema nada seucap-mu pada ingatanku.


-- mengenang mbak en bs -- 


Sabtu, 26 Desember 2015

Catatan / Renungan Akhir Tahun


=TENTANG WAKTU=

sesungguhnya, waktu telah mengingatkan….

bukan kehampaan kosong menyendiri di tempat sunyi,
bukan terang bunga api dan berisik terompet berbunyi,
bukan hingar bingar musik bernyanyi.

sesungguhnya, waktu telah mengingatkan….

seperti halnya rambut yang berubah warna,
seperti halnya sakit-nya raga,
seperti halnya menyusutnya kulit kita.

bahwa….
tujuan perjalanan semakin mendekati,
bahwa….
hamparan hari-hari telah terlewati,
bahwa….
lembaran buku-buku suratan telah terjalani.

sesungguhnya, waktu telah mengingatkan….

bahwa….
para pengantri sedang menunggu pergiliran,
bahwa ….
para pengabdi sedang bersiap memenuhi pemanggilan.

sesungguhnya, waktu telah mengingatkan….

wahai diri yang  bersimbahan hiasan fanawi….
wahai diri yang  menumpuk menggunung alpa….

sedangkan… kini….
antaran detak waktu telah terlalui,
yang …. tak-kan pernah berbalik kembali,
yang …. tak-kan pernah berhenti menanti,

kini……
tibalah saat menyadari…..
amalan  ihsan-i telah menyongsong terhiasi….

ya…Tuhanku…
gelarkan tikar ke-sabar-an sebagai pijakan kakiku,
nyalakan pelita ke-tawadhlu-an sebagai penerang  1/3  malamku,
patrikan marka ke-istiqomah-an sebagai penentu arahku,
petakan rambu ke-ikhlas-an sebagai penentu jalanku,
tebarkan aroma ke-tasyakur-an sebagai penghias amalanku.

ya…Tuhanku…
lindungi aku dari habisnya usia…
tanpa aku bersiap sedia…
‘tuk himpun bekal yang nanti kubawa…

saat menempuh jalan ridha-Mu nan baqa.…

Selasa, 22 Desember 2015

RINDU RASUL (bagian ke dua)




seperti...... terbuka kembali,
lembar-lembar masa, dulu, kemarin, kini,

semak- demi semak tersibakkkan,
detak-demi detak terlewatkan,
meniti merayap pada ruas lembar suratan,
saat siang tegar menerang berjalan,
saat petang melabuh merayap menyembulkan bulan,
saat kabut temaram sepanjang pandang,
saat jalan curam dan menanjak membentang,

senantiasa ku-menunggu,
suara ketukan di pintu iman malamku,
yang kan menjadi getar debar jiwa merindu,
pada Rasul junjunganku,

sang penebar rahmat nan tak berbatas jaman,
sang pembawa kasih nan tak pernah bertepuk sebelah tangan,

tapi... aku malu padamu, ya Rasul junjunganku,

gemerlap sekelilingku, seakan menjauhkanku dari sunnahmu,
jejak langkah kakiku, seakan tertatih mengikuti uswahmu,

aku rindu padamu, ya Rasul junjunganku,

dengan segenap setumpah sepenuh hati.

seolah mungkin seperti,
gelegak jiwa saat senantiasa mengharap barakah,
seolah mungkin seperti,
gejolak rindu-hati siti hawa saat di jabal rahmah.