Senin, 22 Desember 2025

AKU BUKAN SRIKANDI

 


(Catatan seorang  wanitai)

 

bukan harus dari keluarga raja,

bukan harus dengan menjadi panglima,

bukan harus mampu membawa panah senjata,

bukan harus mematut perkasa raga,

bukan harus berhadap-saing pada pria,

 

aku bukan srikandi,

 

tak ada keluarga – melainkan dibangun dengan harmoni,

tak ada panglima – melainkan dipimpin hati,

tak ada panah senjata – melainkan dibusur empati,

tak ada kekuatan raga – melainkan dilapis budi,

 

walau aku bukan srikandi,

 

namun .... takkan terputus-hapus , dirudung balut cobaan,

takkan meredup-memudar , diterpa hembus kedukaan,

takkan meluruh-menghambur , dilanda gelora kelukaan.

Minggu, 07 Desember 2025

SEJAK KINI – MULAI KINI

 
yang lalu... suara telah diambilnya

dan nanti... kembali pula ada yang memintanya

 

‘tuk meresmikan kekuasaan,

dengan deretan janji tak terwujudkan.

dengan untaian kebohongan

yang baru lalu ...

 

bahkan pajak dan beraspun dipermainkan,

bahkan amanat jabatan diabaikan,

bahkan kewenanganpun diperjualbelikan,

dengan balutan bantuan,

dengan janji pertumbuhan,

dengan polesan pencitraan.

 

sejak kini ...

jangan lagi dilenakan,

jangan lagi terulangkan,

 

mulai kini ...

bangun dan bangkitkan jajaran barisan,

walau tak bersenjatakan,

 

tapi dengan

keberdayaan sebagai balutan,

kejujuran sebagai pakaian,

keberanian sebagai pijakan.

 

lihat, lawan, laporkan

 

kalau tidak kini ...

kapan lagi ....

menggulir mewujudkan misi

‘tuk negeri bebas korupsi


*) dalam rangka memperingati HAKORDIA 2025



Kamis, 04 Desember 2025

 


JANGAN-JANGAN (MUHASABAH)

(telah terbit _dalam buku antologi puisi antikorupsi)*)

saat menafakuri...

 

bahwa bumi yang kita berada

hanyalah sebutir debu bagi semesta raya

 

bahwa hamparan hari-hari yang telah dan akan terhiasi

bahwa lembaran buku-buku suratan yang telah dan akan terlewati

hanyalah...

sehampiran sekedip mata

bagi perjalanan  menuju kampung nan baka

 

sebagai pengantri yang menunggu pemanggilan

sebagai pengabdi yang bersiap memenuhi pengadilan

 

kini...

saat memuhasabah diri...

 

karena waktu tak pernah berbalik kembali

karena waktu tak pernah berhenti menanti

 

lalu bertanya....

 

jangan-jangan

kaki yang setiap saat melangkah ke tikar persembahyangan

adalah juga kaki yang sama yang melangkah ke perkolusian

 

jangan-jangan

tangan yang setiap saat diangkat dalam takbir mengagungkan Yang Esa

adalah juga tangan yang sama untuk mengambil hak sesama

 

adalah juga tangan yang sama yang  menancapkan pagar-pagar perampasan

adalah juga tangan yang sama untuk mematok tugu tanda pencurangan

adalah juga tangan yang sama yang menerima penyuapan

 

adalah juga tangan yang sama untuk mereka-reka data dan angka dusta

adalah juga tangan yang sama yang menandatangani kepalsuan nota

 

jangan-jangan

mata yang setiap saat tertuju ke tempat persujudan

adalah juga mata yang sama yang tertutup melihat kemungkaran

 

jangan-jangan

mulut  yang setiap saat mengucap dzikir dan doa

adalah juga mulut yang sama yang bisu menyuarakan kebenaran

jangan-jangan

telunjuk pada tasyahud yang mengEsakanNya

adalah juga telunjuk yang sama untuk memerintahkan kemunafikan

 

jangan-jangan

wajah yang menengok salam kekanan & kekiri sebagai khidmat sesama insani

adalah wajah yang sama yang tidak lagi berbalut empati

 

jangan-jangan

hati dan pikiran yang selalu ingin kusyu' ke Sang Maha Penguasa

juga hati dan pikiran yang sama yang selalu berpaling kepada dunia

 ......

Ya Tuhan yang Maha Segala

 lindungi kami, dari habisnya usia

sebelum kami bersiap sedia bekalnya

 

jadikan wajah kami

saat kembali nanti

sebagai wajah yang berhias rona gembira

bukan wajah yang tertunduk hina


*) buku: Dunia Melangitkan Doa Melawan Korupsi

Rabu, 12 Mei 2021

"BERHARAP ENGKAU UNDANG KEMBALI"






= catatan di akhir ramadhan =

kemarin….
telah Engkau izinkan
ku hadir dalam perjamuan-Mu
telah Engkau hidangkan
sajian bertangkup berselaput menu maghfirah-Mu

walau….
sepertinya tak cukup ku menyapa
sepertinya tak sempat ku mereguknya

padahal….
tak pasti ku kan Engkau undang kembali
sehingga ...
tak pasti ku kan Engkau beri kesempatan menemunya lagi

ya Tuhanku....
janganlah Engkau tetapkan ini sebagai ramadhan terakhirku.....

ya Tuhanku....

dengan bekal apa kepada-Mu aku kan membawa,
sedangkan Engkau telah miliki segala,

dengan ungkap apa kepada-Mu aku kan menghiba,
sedangkan Engkau telah kuasa tetapkan semua.

ya Tuhanku...
tasbih ini....tahmid ini...takbir ini....
bukan semata agar aku dapat lebih dekat kursi-Mu,
bukan semata agar aku dapat merasakan sebagian nikmat surga-Mu,
bukan semata agar aku jauh dari panas api-Mu,

namun.....pekenankan….
kurindu usap kasih-Mu,
kuingin sejuk basuh ampunan-Mu,
kudamba hadir kembali di setiap perjamuan-Mu,

ya Tuhanku.....
lindungi aku dari habisnya usia,
tanpa aku bersiap sedia,
’tuk kumpulkan bekal yang nanti kubawa,
’tuk himpunkan amal yang nanti menyerta,

ya Tuhanku....
gelarkan tikar ke-sabar-an sebagai pijakan kakiku
nyalakan pelita ke-tawadhu-an sebagai penerang 1/3 malamku
petakan rambu ke-ikhlas-an sebagai pengarah jalanku
tebarkan aroma ke-tasyakur-an sebagai penghias amalanku.

agar ku dapat kabarkan ... Allaahuakbar..walillaah ilhamdu....

Rabu, 21 April 2021

ia…yang …… (tentang ibu)



(Serial : WANITA  bagian ke sebelas- )

ia.... tak pernah menuliskan kata -
melainkan mewujud dalam pengorbanan nyata,

ia.... tak pernah menyenandungkan irama -
melainkan yang dipersembahkan ’tuk buah hatinya,

ia.... tak pernah mengharapkan puji jasa –
melainkan  telah berbalut keihklasan atas peran-nya,

ia - yang.....
senyum nya - kan menghadirkan kesejukkan,
usap tangannya - kan mengalirkan kekuatan,
isak harunya - kan menggulirkan ketulusan,

ia _ yang ....
gemulai raganya – kan menandakan ketegaran,
lambai hijabnya – kan menggelorakan kesabaran,
lembut ucapnya – kan mendesirkan ketenangan,

ia-lah insan .....
yang......tak jemu pujangga berinspirasi tentangnya,
yang "tiga kali" keutamaan disebut sebagai penghormatan baginya,
yang Tuhan titipkan sebagian jalan syurga di telapak kakinya,

iya.... ia lah insan...
yang dulu - ia telah pertaruhkan darah dan nyawanya,
yang dulu ia telah rela habiskan waktunya,
yang dulu ia telah hiaskan keindahan hari-harinya,
untuk kita...... iya... untuk kita ......

yang kini ... mungkin masih bertanya....
bagaimana untuk membalas jasanya.....