Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2020

RENUNGAN HARI KARTINI

 


wanita........
walau mungkin tidak berasal dari kalangan berada,

seperti halnya kartini,

namun....mungkin ia lebih ”berada” ,
dalam arung kehidupan yang sesungguhnya.

wanita......
walau mungkin tidak bisa menulis kata-kata,

seperti halnya kartini,

namun mungkin ia lebih ”melukis” pengorbanan nyata,
dalam bentang waktu yang dilaluinya.

wanita.......
walau mungkin tidak pandai berbusana,

seperti halnya kartini,

namun mungkin ia lebih mematut perbuatan
dalam tangkup busana budi kesantunan.

wanita.....
mungkin adalah "guru" se-sebenarnya.....

yang.....
bersit senyumnya - kan menghadirkan kesejukkan,
yang.....
usap tangannya - kan mengalirkan kekuatan,
yang ......
isak harunya - kan menggulirkan keikhlasan,
yang.......
gemulai raganya – kan menandakan ketegaran,
yang.....
lambai hijabnya – kan menggelorakan ketulusan,
yang.....
irama ucapnya – kan mewarnakan ketenangan,

wanita…..
mungkin adalah insan berpuluh citra......

yang... tak ragu hidup bertumpu padanya,
yang... tak jemu pujangga berinspirasi pesona,
yang... menjadi guru bagi anak-anaknya,
yang... menjadi guru bagi suaminya,
yang... menjadi guru bagi siapapun jua,
yang... mungkin tak pernah berhenti untaian nada-kata,
kan mengalun bercerita nuansa tentangnya…….

Senin, 02 Mei 2016

SEKALI DISINI, SESUDAH ITU BERARTI




" catatan seorang murid laki-laki, yang diekspresikan setelah mengikuti Ujian Akhir Sekolah"

hari ini,
sepertinya ada perputaran tertayangkan kembali,
sepertinya ada lembar-lembar buku terbuka kembali,
tentang sebagian perjalanan yang telah terlewati,

disini, ............ di kelas ini .............
masih ada potongan kertas-kertas berserakan,
masih ada coretan pena di bebangkuan,
masih ada cetakan debu bekas telapak tangan,

semuanya seakan...............

telah menjadi indahnya pahatan,
yang mengukirkan nama-nama guru dan teman,
yang kini telah berjalin dalam persaudaraan,
yang kini telah berpadu dalam pertautan,

disini,........... di kelas ini .....................

kini seakan berkalang sunyi,
ditemani jarum jam dalam detakan,
diiringi gemulai gesekan dedaunan,
kini seakan berbisik bahwa sebagian tahapan telah terlewati,

padahal,.........kemarin..............

hitungan hari –
sepertinya adalah sejumlah rerintik hujan pagi merinai,
hitungan waktu –
sepertinya adalah sejumlah tebaran ratna gemintang beradu malu

di ingatan ..... masih tergambarkan......
di pendengaran ...... masih terngiangkan....

canda, ceria, tawa - teman di kala suka,
sendu, galau, haru - teman di kala duka,

juga.........
ucap kata guru nan meneduhkan,
tatap mata guru nan meluluhkan,
usap tangan guru nan menyejukkan,

setelah ini - kemudian....

sepertinya aku akan merasakan kerinduan,…….
pada,…. sorot sejuk-lembut tatap di balik kacamata,
atau irama gerak tangan di papan bak merangkai nada,
yang memendar dari sosok sang ibu guru pujaan……… .

sepertinya aku akan merasakan kerinduan,…….
gema desah teman dalam kesal karena godaan,
lemparan permen pada teman putri di depan,
gurau polos dan celotehan,
hangat - manisnya suasana pembelajaran,


setelah ini kemudian …………..

jangan menjadi suatu kesia-siaan,
kalau hanya sebagai sebatas kenangan, yang hanya sesaat berhampiran,
atau hanya menambah kerutinan yang menyesakkan
atau hanya akan melahirkan kelelahan,
padahal itu berarti adalah suatu kerugian.

setelah kini, esok kemudian ……..

hanya diri yang tentukan sendiri
apakah akan memancarkan arti
apakah akan menaburkan nilai
apakah akan mewujudkan janji negara bakti.

sekali disini, mestinya sesudah itu berarti,

dan..... ..tinggal diri sendiri yang tentukan harapan,
tinggal diri sendiri yang tentukan langkah pijakan,
tinggal diri sendiri yang tentukan pemaknaan.

sekali disini, sesudah itu berarti

---------