Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2025

AKU BUKAN SRIKANDI

 


(Catatan seorang  wanitai)

 

bukan harus dari keluarga raja,

bukan harus dengan menjadi panglima,

bukan harus mampu membawa panah senjata,

bukan harus mematut perkasa raga,

bukan harus berhadap-saing pada pria,

 

aku bukan srikandi,

 

tak ada keluarga – melainkan dibangun dengan harmoni,

tak ada panglima – melainkan dipimpin hati,

tak ada panah senjata – melainkan dibusur empati,

tak ada kekuatan raga – melainkan dilapis budi,

 

walau aku bukan srikandi,

 

namun .... takkan terputus-hapus , dirudung balut cobaan,

takkan meredup-memudar , diterpa hembus kedukaan,

takkan meluruh-menghambur , dilanda gelora kelukaan.

Kamis, 27 Februari 2020

(BUKAN) HANYA RINDU




bayang senyummu ...
seperti  mengeja hari hari berlalu,
nada kata mu ...
seperti mengurai  pendaman waktu,

berapa kali lagi harus menunggu berganti bulan dan mentari,
berapa untai lagi harus memahat memateri hiasan dan memori,

ini (bukan) hanya rindu...
yang menyenandung,
menggunung ,
yang menjulang,
menjelang,

ini (bukan) hanya rindu....
yang mengharap  bersua menemu,
yang menyergap berderap menderu

jika tlah tak mungkin hati mengelakkan,
jika tlah tak mungkin diri menahankan,
seperti yang dulu pernah menyapa mengharapkan.


= untuk memenuhi permintaan sesosok teman =

Minggu, 20 Oktober 2019

KAMU - AKU - KITA


kamu….
benarkah namamu pernah melintaskan
sonata senada rindu

kamu….
bernarkah namamu pernah menyiratkan
segurat segores sipu

seperti…. serintik bening embun,
menggulir lembut - di pucuk daun,

seperti…. setitik lintang pualam,
membinar pijar di beranda malam.

juga aku….

benarkah  pernah merenda namamu,
pada dahan pepohonan menjuntai,

benarkah pernah mengeja namamu,
pada untai gurindam ruang hati,

jangan-jangan  iya…..
dan itu berarti telah membaur menjadi “kita”,
dan itu berarti telah menabur  hiasan rasa,

jangan-jangan iya….
dan bahkan hingga kinipun masih dalam tanya.


-untuk memenuhi permintaan seorang sahabat-



Senin, 06 November 2017

BUKANKAH BULAN TAK PERNAH BERJANJI


entah keberapakah musimnya…
dan masih mencoba memadu menyapa…
sedangkan tangan hanya bisa menulis kata,
sedangkan hati hanya bisa melukis wewarna,

bukankah bulan tak pernah berjanji,
bahwa ia kan selalu berpendar,
melainkan semata hendak menyebar keharmonian,

bukankah bintang tak pernah berjanji,
bahwa ia kan selalu berpijar,
melainkan semata hendak menebar keceriaan,

ah… hingga rasanya…

ingin menjumput seujung senyummu,
yang menoreh pada selayar memaya,
ingin menangkup sebersit tatapmu,
yang menggores pada segambar rerasa,

biar tak lagi ada…

rindu yang tersamar suka,
cinta yang terpenjara masa,

dan yang tak putus dirudung malam,
dan yang tak pupus di  kenangan silam.




Rabu, 28 Juni 2017

SEPOTONG NAMA


( sepotong nama...yang aku lupa – datang dari mana ?
sepotong nama ...itu punyamu- kah? )

yang kemudian ...
menggulir – melaju, menggulung rerasa,
menderu – menerpa, memendarkan romansa.

hingga kemudian ...
terpana tanpa daya,
pada kebeningan kerlip sesinar tatapan,
pada kesejukan percik sebersit senyuman.

ahh ... ternyata ...
tak ada batas antara maya dan nyata,
tak ada ruas antara sapa dan pesona,
melainkan hanya segaris semu belaka.

hingga akhirnya ...
biarkan hati yang mengurai makna,
tentang sosok nun... disana,

tentang sepotong nama ...


=untuk memenuhi permintaan sepotong nama=






Senin, 11 April 2016

ANDAIKAN (bagian kedua)

sesaat itu.....sepertinya.....
telah mengguyurkan terpaan deras hujan,
pada hijaunya hamparan rerumputan,

sesosok itu.....sepertinya.....
telah melemparkan butir bebatuan,
pada tenangnya permukaan kolam di taman,

andaikan.........
kemarin... ada keberanian menyampaikan rangkai bebungaan,
ketika perjumpaan atau perpisahan,
maka.....
ingin-ku sematkan setangkai pada merah hijabmu.

andaikan........
kini...... ada pelangi membentang sebagai jembatan,
antara ”MERAPI – BUKIT BARISAN”,
maka.....
ingin-ku...meniti jejak hingga ke ”kota”-mu,

andaikan........
kini......ada burung mengantarkan sejumput harapan,
yang dulu pernah tertebarkan,
maka.....
ingin-ku...ikat sertakan sebagai hiasan pada langkah kakimu,

- untuk aan -

ANDAI........KAN...... (bagian pertama)



tak ada lagi ‘kata’ diungkapkan,
tak perlu lagi ‘nada’ diiramakan,

‘tuk jelaskan…..mengapa ia………

sosok gambarnya menebarkan nyanyi,
sorot tatapnya memendarkan harmoni,
samar bayangnya memancarkan memori,
suara ucapnya memaparkan puisi,

ah….andai....kan mewujud nyata…..

dapat menjumput sepenggal sejuk senyum-mu,
maka– kan ku-tambat lekat pada ruang rinduku;

andai....kan…..

dapat membaur menjadi langit ‘kota’-mu,
maka– kan ku-naungi gemulai lambai hijabmu;

andai....kan…..

dapat melebur sebagai air ‘sungai-musi’-mu,
maka– kan ku-aliri gerak jejak langkahmu;


= untuk memenuhi permintaan seseorang di palembang

Senin, 23 November 2015

DULU....DI KAKI SINDORO..........



(untuk memenuhi permintaan teman yang 
teringat kisah masa KKN dulu di Temanggung)

diantara lembaran kabut putih menaungi,
diantara lembaban  percik hujan membasahi,
seperti menapak menyibak sunyi setapak jalan,
seperti merebak menguak duri semak hamparan,

sepagi dini, telah menebar arti,
di gelaran permadani kuning pepadi,

betapa samar membias bersit  pesona,
pada saat hati kan menebarkan makna,

ya...
dulu di kaki sindoro.... kala pagi berpendar mentari...
kini....
kita masing-masing di sini.....kala hati menawar romansa memori,

yang tergambar dalam samar berbaur rindu,
yang terpancar dalam debar berbinar semu.

hingga....seakan.....
menerabas halangan ruang seluas ini,
meretas  rintangan waktu selama ini,

padahal....
sedetikpun tak hendak terbayang menghiasi,
dengan pahatan indahnya dambaan mahligai.

sedangkan......tak sanggup dihindari.........

daun-daun telah bertaburan
menebar – menutup bangku di taman,

sedangkan.....tak mampu diingkari.......

dulu.... di kaki sindoro....kala pagi berpendar mentari...

inginku.......
ikat gerai lembut rambutmu - dengan saputangan harapan,
inginku.......
lempar hening air kolam - dengan bebatuan kenang-kenangan.

=buat : aan=

Minggu, 01 November 2015

DULU.....DI KAKI SINDORO (bagian satu)




(untuk memenuhi permintaan teman KKN di Temanggung,...dulu...)

akankah dapat tergambar kembali –
           dengan goresan pena kenangan,
segurat senyum-mu yang dulu pernah mencerahkan kegundahan.

akankah dapat terekam kembali –
           dengan lantunan irama paduan,
serangkai kata-mu yang dulu pernah menaburkan keceriaan.

di kaki sindoro.....dulu.....
sewaktu dengan diam – terucap harapan,
sewaktu dengan sunyi - terungkap dambaan,

di kaki sindoro.....dulu.....
sewaktu lengang jalan berbatu membangunkan hati,
sewaktu padi kuning meraya menggelarkan arti,

di kaki sindoro.....dulu.....
bahkan reranting belukar-pun menyibakkan sebersit asa,
bahkan dedaun tembakau-pun merebakkan aroma pesona.

Rabu, 08 Juni 2011

ANDAINYA (serial : wanita)

- bagian tambahan kedua dari tujuh tulisan -

rasanya..........

tak cukup kata diungkapkan,
’tuk menyuratkan berlaksa pesonanya,

tak cukup nada didendangkan,
’tuk mengguratkan berjuta inspirasinya.

sepertinya ............

jernih parasnya adalah hembus ketenangan,
sejuk senyumnya adalah belai keteduhan,
bening tatapnya adalah usap kelembutan,
irama langkahnya adalah gerak keharmonian,
gandeng tanganya adalah aliran kekuatan.

andainya..............
aku dapat melebur kedalam bumi,
kan kulapisi setiap jejak kakinya,

andainya............
aku dapat membaur menjadi langit pagi,
kan kunaungi setiap helai rambutnya,

andainya..............
aku dapat bercampur sebagai embun dini hari,
kan kuperciki setiap inci porinya,

andainya............
aku dapat bertabur seperti sepertiga malam sunyi,
kan ku-tenangi setiap gundah hatinya.

Jumat, 27 Mei 2011

HATI-NYA ADALAH PELANGI



(catatan tentang WANITA - bagian ke tiga)

hati-nya walau hanya segenggam kecil anatomi,
namun begitu berarti......
karena kan melingkupi segala nilai
karena kan meliputi segala terjadi

seakan menjadi seperti - samudera tak berpelabuhan
taktala terpautkan kerinduan
pada yang terpateri dalam dambaan

seakan menjadi seperti - malam tak berbintang
taktala kecederaan luka menerjang
pada pengharapan yang telah digadang

adalah hati wanita - begitu menakjubkan
kemudian kan memancarkan sinaran kehangatan
kemudian kan menebarkan bening kesejukan
kemudian kan memahatkan harmoni keindahan
kemudian kan menggayutkan belai kelembutan

adalah hati wanita - begitu mengagumkan
yang sepertinya ada lengkung bingkai pelangi mewarnakan
dalam merah - kekuatan
dalam jingga - kegairahan
dalam kuning - keceriaan
dalam hijau - ketulusan
dalam biru - keteduhan
dalam nila - ketabahan
dalam ungu - kelembutan

Ya... Tuhan Sang Penguasa Segala...
bangunkan dinding kehormatan sebagai perisai yang membentengi jiwanya
pancarkan embun keikhlasan sebagai penghias kasih sayangnya
hamparkan permadani kesabaran sebagai pelapis jejak langkahnya