Selasa, 22 Desember 2015

RINDU RASUL (bagian ke dua)




seperti...... terbuka kembali,
lembar-lembar masa, dulu, kemarin, kini,

semak- demi semak tersibakkkan,
detak-demi detak terlewatkan,
meniti merayap pada ruas lembar suratan,
saat siang tegar menerang berjalan,
saat petang melabuh merayap menyembulkan bulan,
saat kabut temaram sepanjang pandang,
saat jalan curam dan menanjak membentang,

senantiasa ku-menunggu,
suara ketukan di pintu iman malamku,
yang kan menjadi getar debar jiwa merindu,
pada Rasul junjunganku,

sang penebar rahmat nan tak berbatas jaman,
sang pembawa kasih nan tak pernah bertepuk sebelah tangan,

tapi... aku malu padamu, ya Rasul junjunganku,

gemerlap sekelilingku, seakan menjauhkanku dari sunnahmu,
jejak langkah kakiku, seakan tertatih mengikuti uswahmu,

aku rindu padamu, ya Rasul junjunganku,

dengan segenap setumpah sepenuh hati.

seolah mungkin seperti,
gelegak jiwa saat senantiasa mengharap barakah,
seolah mungkin seperti,
gejolak rindu-hati siti hawa saat di jabal rahmah.

RINDU RASUL (bagian ke satu)




ketika …..
beratus juta buih bersebaran
diantara gelutan gelombang hidup bergulungan,

ketika …..
berpuluh juta barisan berberaian
diantara bangunan dan kendaraan ber-lalulalang-an,

hingga …..
terjungkal jalan-ku menapaki jejakmu,
tersengal daya-ku mengikuti keteladananmu,
terlena gerak-ku menjalani sunnahmu.

hingga …..
s’makin menggelorakan rindu-kupadamu,
ya…. Mustafa Rasul junjunganku,
walau jauh terpisah jarak dan waktu,

s’makin membara pada setiap ruang hati,
s’makin menjalar pada setiap luang pori.

padahal …..
sepertinya tak cukup bukti,
 ‘tuk tandakan cintaku padamu,
padahal......
sepertinya tak cukup saksi,
‘tuk kabarkan kasihku padamu.

hingga …..
ingin-ku selalu menemu
harmoni nada gemericik air wudhu
berbaur dengan irama bijih-bijih tasbih beradu,
sebagai bekal pembasuh sejuk jiwaku
kala bergabung menyatu dalam barisanmu

Senin, 14 Desember 2015

BULAN SEPARO PURNAMA DI ATAS JEMBATAN AMPERA





(bagian ke dua)

ketika…..
sang tangan – yang hanya bisa
menggoreskan bayang semu
kemudian iri…
pada gejolak sang hati –
yang mampu,menggambarkan indah mata-mu,

serasa telah berlalu sedasa warsa….
padahal segaris senyum masih bersisa,

serasa akan pula menjelang begitu lama……
padahal seikat asa kan menjelma,

sedangkan….
semburat elok rerona,
bergelayut menjulang di atas jembatan ampera,
mengalir membalut hening saat bulan separo purnama,
menderu merindu menerpa,

menuai janji berhias memori,
menjalin  irama nyanyi serenada hati,

seperti….

saat…dulu…ketika….
sekecap bait kata,

saat…dulu…ketika….
sebersit sorot mata,

menjadi untaian maha pesona,
menjadi rangkaian berjuta romansa.
 

nb : untuk memenuhi permintaan seorang teman di palembang

Senin, 23 November 2015

DULU....DI KAKI SINDORO..........



(untuk memenuhi permintaan teman yang 
teringat kisah masa KKN dulu di Temanggung)

diantara lembaran kabut putih menaungi,
diantara lembaban  percik hujan membasahi,
seperti menapak menyibak sunyi setapak jalan,
seperti merebak menguak duri semak hamparan,

sepagi dini, telah menebar arti,
di gelaran permadani kuning pepadi,

betapa samar membias bersit  pesona,
pada saat hati kan menebarkan makna,

ya...
dulu di kaki sindoro.... kala pagi berpendar mentari...
kini....
kita masing-masing di sini.....kala hati menawar romansa memori,

yang tergambar dalam samar berbaur rindu,
yang terpancar dalam debar berbinar semu.

hingga....seakan.....
menerabas halangan ruang seluas ini,
meretas  rintangan waktu selama ini,

padahal....
sedetikpun tak hendak terbayang menghiasi,
dengan pahatan indahnya dambaan mahligai.

sedangkan......tak sanggup dihindari.........

daun-daun telah bertaburan
menebar – menutup bangku di taman,

sedangkan.....tak mampu diingkari.......

dulu.... di kaki sindoro....kala pagi berpendar mentari...

inginku.......
ikat gerai lembut rambutmu - dengan saputangan harapan,
inginku.......
lempar hening air kolam - dengan bebatuan kenang-kenangan.

=buat : aan=